Peluang Reksadana di Tahun Babi Tanah 2019

Peluang Reksadana di Tahun Babi Tanah 2019

Sepanjang 2018, kinerja pasar modal Indonesia memang tak secerah tahun sebelumnya. Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan 2,54 persen menjadi 6.194, jauh dari capaian akhir 2017 sebesar 6.355. Torehan akhir 2017 menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.


Pada Januari-Februari 2018, IHSG sempat bergerak positif seiring dengan penguatan rupiah, bahkan sempat menembus rekor baru di level 6.660. Namun, pada Maret, IHSG mulai berguncang. Kala itu, Bank Sentral AS atau The Fed menaikkan suku bunga 0,25 basis poin dari 1,5 persen menjadi 1,75 persen. Sampai Desember, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak empat kali, hingga menjadi 2,5 persen.

Pada saat bersamaan, IHSG kian tertekan ketika isu perang dagang antara AS dan Cina ikut mencuat. Ditambah lagi, muncul juga krisis nilai tukar di negara-negara berkembang seperti Turki dan Venezuela.

“Turbulensi yang kuat dari faktor eksternal menjadi penyebab utama IHSG minus. Apalagi nilai tukar rupiah juga terdepresiasi cukup dalam,” kata Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan kepada Tirto.

Pergerakan rupiah sepanjang 2018 mengalami penurunan dari sebelumnya Rp13.542 per dolar AS menjadi Rp14.481 per dolar AS atau turun 6,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang penurunan IHSG.

 

Peluang Reksa Dana 2019


Minat masyarakat untuk berinvestasi di reksa dana memang makin tumbuh meski kinerjanya secara keseluruhan sedang loyo tahun lalu. Hal itu bisa dilihat dari total dan kelolaan industri reksa dana yang sudah menembus Rp507,26 triliun per Desember 2018, naik 11 persen dari Desember 2017.

Jumlah produk yang ditawarkan para perusahaan MI juga terus bertambah. Hingga saat ini, total produk reksa dana sudah mencapai 2.106 produk atau naik 49 persen dari sebelumnya akhir 2016 sebanyak 1.414 produk.
Menurut Wawan, kinerja reksa dana pada Tahun Babi Tanah ini besar kemungkinan akan lebih baik ketimbang tahun lalu.


Ada dua hal yang membuat kinerja reksa dana membaik di tahun ini. Pertama, Bank Sentral AS memberikan sinyal untuk mengerem rencana kenaikan suku bunga. Kedua, secara statistik, IHSG saat Pilpres belum pernah sekalipun negatif.

“Target kami untuk reksa dana pendapatan tetap bisa tumbuh 5-6 persen. Reksa dana saham 9-10 persen, reksa dana campuran 7 persen dan reksa dana pasar uang sebesar 6 persen,” kata Wawan.

Apakah masih akan tetap menaruh keranjang investasi di reksa dana pada tahun ini?
 
 
(tirto.id - Ekonomi) 
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra