LQ45 Mulai Gerak Bawa IHSG ke Zona Hijau

LQ45 Mulai Gerak Bawa IHSG ke Zona Hijau

Setelah mengalami koreksi selama sepekan terakhir yang cukup dalam sebesar -6,16%, kini IHSG mulai menunjukkan harapan.

Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah masuk zona hijau dengan penguatan 0,74% ke level 5.870,23, padahal pada awal perdagangan sesi I IHSG sempat anjlok hingga 0,8%.

Pada awal pembukaan pasar, IHSG terperosok karena sentimen perang dagang masih penuh dengan ketidakpastian.

Terlebih lagi, beberapa sumber mengatakan bahwa dialog lanjutan antara AS dan China telah dihentikan sementara.

Sementara itu, dari dalam negeri pelaku pasar dicemaskan dengan kekhawatiran aksi terorisme menjelang pengumuman hasil pemilihan presiden oleh Komis Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Mei mendatang.

Akan tetapi, di lain pihak pelaku pasar tampaknya mulai tergiur dan memanfaatkan momentum dengan berburu saham likuid yang harganya terbilang murah saat ini.

Beberapa emiten yang mendorong penguatan bursa saham acuan Indonesia mayoritas adalah emiten yang terdaftar dalam LQ45.

Emiten-emiten tersebut di antaranya TLKM (1,71%), BBCA (1,06%), UNVR (1,56%), KLBF (3,57), BMRI (1,41%).

Kelima saham perusahaan tersebut, mulai diburu investor karena pekan lalu sudah terkoreksi lebih dari 5%, sehingga wajar saja pelaku pasar sangat tertarik melakukan aksi beli.

 

Kode Koreksi Sepekan
TLKM -7.66%
BBCA -8.01%
UNVR -5.98%
KLBF -7.39%
BMRI -5.35%

 

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono Widodo mengatakan, perhelatan politik ini menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi pasar modal saat ini masih mengalami pelemahan.

Belum lagi adanya sentimen dari sisi global seperti perang dagang antara Amerika Serikat - China dan kondisi dalam negeri sendiri yang dinilai masih kurang mendukung.

"Perang dagang masih menjadi headline di seluruh dunia. Kalalu Amerika masih batuk-batuk, seluruh negara akan kena, termasuk Indonesia,"

Kondisi lainnya yang dikhawatirkan oleh pelaku pasar, khususnya asing adalah kondisi fundamental makro Indonesia. Seperti diketahui di bulan lalu Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan nilai mencapai US$ 2,5 miliar.

Selain itu, pertumbuhan earnings perusahaan tercatat di kuartal I-2019 lebih rendah dari perkiraan analis, sehingga banyak analis yang melakukan downgrade karena faktor tersebut. Kondisi ini dinilai membutuhkan waktu untuk tercermin di harga.

 

 

SUMBER: CNBC Indonesia