Cara lapor reksadana dalam SPT Pajak

Cara lapor reksadana dalam SPT Pajak

 

Batas lapor pajak mungkin masih lama, tapi tidak ada salahnya Anda mengetahui dari sekarang mengenai hasil reksadana yang harus dimasukkan ke laporan SPT pajak.  Sebagai masyarakat Indonesia, tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk taat dalam membayar pajak, termasuk pajak hasil investasi kita. Meskipun reksadana tidak termasuk ke dalam objek yang dikenakan pajak, tapi Anda tetap harus melaporkan hasil laba yang Anda terima dari investasi reksadana ke dalam laporan Surat Pemberitahuan Tahuan (SPT) Pajak.

Hal ini dikarenakan reksa dana merupakan instrumen investasi yang termasuk dalam kategori harta kekayaan seperti uang tunai, tabungan, emas, obligasi, saham, bangunan, tanah dan lainnya yang harus dilaporkan dalam SPT Pajak.

Seperti yang tertera dalam Undang-Undang Perpajakan dan Undang-Undang Pasar UU No. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan, Pasar 4 ayat 3 poin (i) yang berbunyi: 

“Yang dikecualikan dari objek pajak adalah bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif.

Selanjutnya dalam Undang-Undang Pasar Modal , yang merujuk pada UU No 8/1995 tentang Pasar Modal, Pasal 18, yang berbunyi Reksa Dana dapat berbentuk:

  1. Perseroan
  2. Kontrak Investasi Kolektif

Lalu, bagaimana cara melaporkannya?

1. Lengkapi formulir E-Filling dan isi sesuai tahapan-tahapannya.

 

2. Lapor penghasilan reksadana 

  • Di langkah ke-6, isi pertanyaan sesuai dengan kolom yang tertera, pertanyaan pertama di mulai dari ‘Apakah Anda memiliki penghasilan yang tidak termasuk objek pajak?’.
    Hingga menyebutkan nominal penghasilan lainnya yang tidak termasuk Objek Pajak yang terdiri dari 6 poin.
  • Centang ‘Ya’ jika Anda mempunyai penghasilan Tidak termasuk Objek Pajak.
  • Jika Anda memiliki reksa dana senilai Rp20 juta dan menjualnya sebesar Rp22 juta, maka keuntungan Anda sebesar Rp2 juta. Keuntungan sebesar Rp2 juta ini yang akan dimasukkan di poin ke 6 yang bertuliskan “Penghasilan Lainnya yang Tidak Termasuk Objek Pajak”.
  • Keuntungan reksa dana tidak hanya dari penjualan saja, tapi bisa dari transaksi switching (pengalihan). Sebagai contoh, Anda membeli Reksa Dana Saham Rp20 juta, setelah berjalan 5 bulan, investasi Anda akan berkembang jadi Rp25 juta.
    Lalu dana tersebut dialihkan ke reksa dana campuran. Saat pengalihan, reksa dana saham Anda akan mengalami keuntungan sebesar Rp2.000.000, nominal ini nantinya dilaporkan di poin ke 6.
  • Setelah selesai, lanjutkan ke langkah 8 yang menanyakan ‘Apakah Anda memiliki harta?”

3. Pelaporan Harta Reksadana

  • Klik ‘Ya’ jika Anda memiliki harta.
  • Isi kolom Harta Baru/New Asset, yang terdiri dari Kode Harta, Nama Harta, Tahun Perolehan, Harga Perolehan, dan Keterangan.
  • Untuk reksa dana, gunakan Kode 036.
  • Nama Harta ditulis "Reksa Dana".
  • Tahun Perolehan, diisi tahun sesuai dengan reksa dana itu didapat (misalnya 2019).
  • Harga Perolehan, diisi nilai beli reksa dana (misal Rp30.000.000).
  • Keterangan, ditulis nama perusahaan tempat berinvestasi reksa dana (misalnya, Sinarmas Asset Management – Reksa Dana Simas Saham Unggulan).

Jika Anda masih bingung, reksa dana harus bayar pajak atau tidak, pelaporan reksa dana dalam penyampaian harta pada SPT Tahunan Pajak ini tidak dipungut biaya. Sehingga, tidak akan membuat Anda dikenakan atau diharuskan membayar pajaknya.

Maka dari itu, tidak perlu takut dan khawatir untuk melaporkan atau mencantumkan investasi reksa dana Anda dalam penyampaian SPT Pajak. Meskipun batas pelaporan pajak SPT masih terhitung lama, tetapi akan lebih baik jika melaporkan lebih awal. Biasanya pelaporan SPT Pajak bisa dilaksanakan mulai bulan Januari, sehingga persiapkan mulai dari sekarang agar tidak terlewatkan.

 

---

Sumber: Finansialku