Value Investing, apa itu?

Value Investing, apa itu?

 

Berburu harta karun dalam investasi saham bukanlah hal yang mustahil, jika Anda bisa menerapkan strategi nilai investasi atau value investing. Namun apa sih Value Investing itu?

Pertama kali dikenalkan oleh investor profesional di awal abad ke-20, Benjamin Graham, value investing adalah startegi investasi untuk menemukan saham super dengan harga yang lebih murah dari harga wajarnya. Strategi ini dilakukan dengan berfokus pada value atau nilai dari saham tertentu melalui analisis rasio fundamental perusahaan, seperti harga wajar, laba, price to earning ratio (PER), arus kas perusahaan, kemampuan membayar utang, dan prospek masa depan dari perusahaan tersebut. Dengan melakukan strategi ini, seorang investor dapat menemukan saham yang harganya murah alias di bawah harga pasar, tapi bukan berarti saham tersebut murahan.

 

Contohnya?

Harga saham perusahaan A bertengger di level Rp10.000 dengan kemampuan menghasilkan laba per saham sebesar Rp500. Dengan begitu, price to earnings ratio (PER) dari perusahaan tersebut adalah Rp10.000 /  Rp500 = 20 kali.

Sementara itu, harga saham perusahaan B bertengger di level Rp1.000 dengan kemampuan menghasilkan laba sebesar Rp20. Dengan begitu, PER dari perusahaan tersebut adalah Rp1.000 / Rp20 = 50 kali.

Dua kasus di atas menunjukkan bahwa meskipun harga saham B lebih murah, secara PER, perusahaan B lebih mahal daripada perusahaan A. Sebab, perusahaan A hanya mempunyai PER 20 kali, sedangkan perusahaan B 50 kali.

Strategi value investing diklaim menjadi strategi yang penting untuk diterapkan investor. Hal tersebut berangkat dari kemungkinan bahwa pasar salah memahami perusahaan atau meremehkan potensi penghasilan yang sebenarnya dari perusahaan tersebut. 

Meskipun begitu, value investing juga mempunyai kelemahan, yaitu adanya paksaan bagi investor tersebut untuk ber-mindset investor. Artinya, strategi ini diklaim kurang cocok untuk seseorang dengan mindset trader jangka pendek.

Fluktuasi pasar dalam jangka waktu yang lebih kecil membuat seseorang cenderung mengambil keputusan secara emosional ketimbang rasional, di mana hal itu berlawanan dengan prinsip value investing yang dapat memberikan return yang optimal jika dilakukan dalam jangka panjang.

Selain itu, dalam strategi value investing, penting untuk mempertimbangkan intrinsic value, di mana hal itu cukup sulit untuk diukur. Intrinsic value adalah nilai sebenarnya atau nilai wajar yang terkandung dari sebuah saham. Kesulitan mengukur intrinsic value sangat bergantung pada informasi yang tersedia dan dapat diakses oleh investor tersebut.

 

----

Sumber: Warta Ekonomi